H. Nurur Rohman, Lc

Nyeng mimpin Media Dakwah Attaqwa.

H. Muhtadi "Hugo" Muntaha, Lc

Dewan penyiaran dan tukang nraktir crew.

Irfan Lepas Fitrah

Nyeng jagain dan ngatur radio attaqwa punya gawe.

Ust. Aang Kunaifi, S.Pd.I

Tukang Nyimpen Anggaran.

Abi Tias

Nyeng suka ngoceh kalo lagi galau.

Iyan

Tukang bikin dan jualan iklan.

Deni AR

Pitung-nya radio Attaqwa.

Agung Fahmi

Nyeng punya acara silaturrahmi dan informasi siang.

Bang Bidor

Nyeng suka Ajag-Ijig Bae...

Andew

Tukang nge-dombanin komputer.

A'wan "D 090 LD"

Tukang mbopongin alat siaran langsung.

Nur Alamin

Nyeng suka nyelipin kata mutiara di gelaran kondangan.

Ka Mey

Tukang Momong Bocah tiap Minggu Sore

Mba Daning Aliya

Nyeng punye acara "silaturrahmi dan informasi" pagi.

Wahyudin, S.Pd.I

Tukang ngondisi-in nara sumber.

Sofyan

Nyeng maenin mixer dan muter request lagu dari shohib karib.

Mpo Nana

Nyeng punye acara "silaturrahmi dan informasi" tiap Sabtu Siang.

M. Imam Zami "Hercules"

Yang selalu galau maenin mixer.

Asep 'bukan' Irama

Bolangnya Radio Attaqwa.

Ust. Amin "NAM" Mu'thi

Nyeng suke ngoreksi tulisan kru".

All Crew

Dedengkotkan Attaqwa 107,7 FM "Ramah Berbudaya".

Mba Sitta

Nyeng punye acara SIS.

>> Info Iklan: (021) 9715 2399 / 0813 1848 7231 >> No Broadcast: Telp: (021) 8913 2210 / SMS : 0858 1064 1064 >> Alamat: Komplek Pondok Pesantren Attaqwa Pusat Putra, Ujungharapan Bahagia - Babelan

Kamis, 09 Mei 2013


Mengenal Radio Attaqwa 106.4 FM
(Sebuah Refleksi)

Oleh: Nurul Amin

Sayup azan terdengar dari pengeras musala. Setiap insan bangkit menunaikan kewajiban menghadap Sang Khaliq dengan khusyuk. Salat subuh pun dikerjakan penuh ikhlas dan kedamaian.
Pukul lima telah masuk. Istriku mengaktifkan telepon genggamnya. Ia mendengarkan radio. Terdengar suara seorang ustaz sedang menjelaskan dengan rinci isi kitab Safinatunnaja. Di Minggu nan sejuk itu, penjelasan ustaz itu begitu enak didengar dan terasa sejuk di hati.
“Radio apa itu, Mi?” tanyaku.
“Radio Attaqwa, Yah,” jawab istriku.
“Radio Attaqwa?” ucapku mengernyitkan kening.

*****

Minggu itu aku berniat mengajak anakku untuk memancing ikan di daerah Muara Gembong. Pagi-pagi sekali aku dan anakku sudah berangkat menuju Muara Gembong.
Sekitar pukul 08.30 WIB, aku dan beberapa orang yang ikut denganku tiba di sebuah empang ikan. Kami pun mulai memancing.
“Dari mana, De?” tanya seorang lelaki tua.
“Dari Ujung Harapan, Kong,” jawabku.
“Oh, ya? Deket ma Radio Attaqwa?” tanyanya lagi.
“Loh, Engkong tahu Radio Attaqwa?” tanyaku heran.
“Iya, tahu. Radio Attaqwa pernah ke mari beberapa kali. Dulu ngasih bantuan sembako buat warga di sini, termasuk saya. Waktu musim hujan kemarin, Radio Attaqwa juga ngasih sembako,” ucapnya tersenyum.
Radio Attaqwa? Kok bisa? Gumamku keheranan.

*****

Pada suatu malam, aku berkunjung ke rumah guruku, H. Ahmad Zubair Dasuki, S. Ag., M. Si. Ketika aku ke rumahnya, kulihat ia tengah asyik mengutak-atik lembaran beberapa buku.
“Guru rajin banget membaca buku. Apa enggak lelah, Guru? Pagi mengajar. Siang me-manage sekolah. Malamnya masih membaca buku,” sapaku.
“Lelah, sih! Tapi, nikmati saja! Allah SWT memerintahkan kita untuk membaca. Rasulullah SAW menyuruh kita rajin membaca. Almaghfurlah KH Noer Ali juga berkata begitu,” ucap beliau.
“Almaghfurlah menganjurkan para guru untuk banyak-banyak membaca karena sangat bermanfaat bagi pengembangan keimanan dan kualitas mengajar guru,” tambah beliau.
“Guru mah enak, bisa denger langsung ucapan Almaghfurlah. Saya mah enggak sempat. Keburu Almaghfurlah meninggal,” ucap saya.
“Ente bisa mendengarnya, kok,” kata Guru Zubair.
“Maksud Guru?” tanya saya keheranan.
“Ucapan Almaghfurlah tentang itu sering diputar di Radio Attaqwa,” jelasnya.
“Radio Attaqwa?” tanyaku pelan.
“Iya, Radio Attaqwa. Saya sekarang sedang menyiapkan materi untuk besok. Saya kan salah satu narasumbernya.”
Aduuuuh, Radio Attaqwa lagi! Radio Attaqwa lagi! Di mana-mana aku mendengar Radio Attaqwa.

*****

“Asalamualaikum,” ucapku setibanya tiba di depan pintu rumah H. Abid Marzuki.
“Waalaikumussalam,” ucap seseorang dari dalam.
“Ada apa, ya?” tanya suara itu.
“Saya mau ketemu Pak H. Abid, Bu,” jawabku.
“Beliau sudah berangkat setengah jam yang lalu,” jawab suara itu.
“Pulangnya masih lama, Bu?” tanyaku lagi.
“Saya kurang tahu persisnya. Katanya sih, beliau mengisi acara hanya satu jam.”
“Acara apa, Bu?”
“Saya tidak tahu namanya. Yang pasti, tentang pendidikan. Kalau ada sesuatu yang penting, temui aja beliau di tempat siaran!”
“Di mana itu, Bu?”
“Di Radio Attaqwa, di Kompleks Pondok Pesantren Attaqwa Putra.”
Masya Allah, lagi-lagi Radio Attaqwa. Adakah yang tidak berhubungan dengan Radio Attaqwa? Semua yang aku temui dalam beberapa hari ini selalu berkaitan dengan Radio Attaqwa.
Akhirnya, kuputuskan untuk menikmati nasi goreng di tikungan dekat Musala Albarkah. Tampak ada beberapa orang sedang mengantre.
“Yah, gua udah telat. Pendaftaran udah ditutup,” ucap seorang remaja putri berbaju biru.
“Sama, gua juga udah kehabisan kursi. Katanya, kuotanya udah ga cukup. Sudah 46 bus,” ucap temannya yang berjilbab putih.
“Kursi apaan sih, Neng?” tanyaku sok akrab.
“Kursi mobil, Pak,” jawab dua remaja itu bersamaan.
“Gimana engga banyak peminatnya, bayarnya murah, tapi bisa dapat banyak doorprize. Ada sepeda, televisi, bahkan umrah gratis,” jelas mereka lagi.
“Iya, kursi mobil. Tapi, acara apa?” tanyaku makin tak mengerti.
“Acara tur ke Pasir Putih, Pak. Kami sudah tidak bisa mendaftar lagi karena sudah tutup.”
“Siapa yang ngadain?” tanya saya diiringi rasa kagum.
“Radio Attaqwa,” ucap mereka bersamaan.
Subhanallah. Radio Attaqwa lagi yang dibicarakan.   

*****

Itulah sekelumit pengalamanku ketika pertama kali mengenal Radio Attaqwa.  Dulu, sekitar tahun 2000 hingga 2005, aku lupa persisnya, aku memang sering bolak-balik ke Radio Attaqwa. Dulu Radio Attaqwa dipegang oleh Almarhum H. A. Zubair Murikh, Lc. Dipandu beliau dan Ali Nu’man Akhyar, aku mengisi acara Khazanah Pemikiran Islam. Isinya berupa pengenalan pemikiran para tokoh Muslim dunia. Sejak kepindahan kerjaku ke Bogor dan karena wafatnya Almarhum H. A. Zubair Murikh, Lc., aku tak pernah lagi bersentuhan dengan Radio Attaqwa. Namun, sejak beberapa bulan ini, Radio Attaqwa kembali hadir mengisi aktivitas keseharianku.

*****

Sesungguhnya jalan dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara, mengikuti perkembangan zaman. Ketika teknologi informasi kian berkembang dengan kehadiran radio, televisi, dan internet, jalan dakwah pun bisa memanfaatkan alat teknologi tersebut. Radio, sebagai alat teknologi terdahulu daripada kedua alat teknologi yang telah disebutkan, masih memiliki peran yang sangat signifikan dalam pengembangan jalan dakwah ini.
Setidaknya ada tiga manfaat besar radio saat ini yaitu sebagai sarana informasi, sarana hiburan, dan sarana silaturahmi. Sebagai sarana informasi, radio dapat menjadi jembatan transformasi informasi dalam berbagai bidang yang dapat memberi pencerahan bagi masyarakat. Radio dapat menjadi pendorong bagi terciptanya karya kreatif yang dapat membawa angin perubahan bagi masyarakat agar menjadi lebih agamis dan berbudaya. Sebagai sarana hiburan, radio dapat menjadi tempat pelepas lelah dan penyegar pikiran. Fungsi ini tidak bisa dilepaskan dari radio, mengingat dalam sejarahnya, radio pernah memiliki peran sentral dalam pengembangan kesusastraan dan hiburan. Sebagai sarana silaturahmi, radio merupakan sarana pemersatu bagi masyarakat dari berbagai golongan.
Tentu saja, tujuan penggunaan radio tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kepentingan seseorang, lembaga, organisasi kemasyarakatan, aliran keagamaan, atau partai politik. Karena berdasarkan pengalaman sejarah, radio memang pernah menjadi alat propaganda yang paling efektif. Adanya premis negatif yang muncul saat ini tentang sejarah masa lalu radio adalah bagian dari perkembangan kemajuan radio. Premis tersebut juga bisa menjadi alat kontrol bagi radio untuk tetap objektif dalam menyajikan berbagai materi dan konten acara yang disiarkannya.
Dalam konteks Radio Attaqwa, semoga media dakwah ini tetap konsisten sebagai jalan dakwah yang memiliki mainstream keislaman dan keattaqwaan yang teguh. Konsistensi ini harus selalu dimiliki oleh para penanggung jawab dan seluruh orang yang ada di dalamnya. Percayalah, upaya yang telah dan sedang dilakukan ini tidak hanya berdampak secara pribadi, kelembagaan, dan masyarakat pemirsanya saja, tetapi sesungguhnya upaya itu telah turut menorehkan sejarah, membangun peradaban, dan menciptakan kebudayaan.

Bekasi, 2 Mei 2013
                                                                                                            NAM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar